Selasa, 30 September 2025

Warung Kopi Dan Dua Pilihan

Cinta Segitiga di Warung Kopi

Cinta Segitiga di Warung Kopi

Ketika perasaan bersaing di antara aroma kopi dan kata-kata

Jadi gini ceritanya, gue ada di posisi yang bener-bener ngeselin : gue suka sama Riri, cewek yang demen banget nongkrong di warung kopi yang sama kayak gue. Tapi, gue bukan satu-satunya. Ada juga Maman.

Nah, Maman ini tuh… rival gue. Dan yang bikin sebel, dia tuh cowok yang almost perfect. Sok banget, selalu bawa buku filsafat, ngomong pake kata yang bikin lo harus googling, dan celananya never lipat. Gue? Ya gue ya gini-gini aja. Ngobrol paling mentok bahas game atau meme yang lagi viral.

Ilustrasi warung kopi

Tempat dimana semuanya bermula - warung kopi favorit

Ilustrasi buku dan kopi

Maman dengan buku-buku filsafatnya yang selalu dibawa

Awalnya gue pikir ini cuma pertarungan biasa. Gue kasih Riri novel yang gue suka, Maman langsung saingin bawa puisi karya dia sendiri. Gue ajak Riri nongkrong, Maman udah lebih dulu nawarin jadi partner diskusi buat tugas kuliahnya. Rasanya kayak lomba, dan gue selalu di posisi kedua.

"Pertarungan gue sama Maman itu nggak pernah adil, karena kita bertarung di ring yang berbeda."

Suatu malem, di warung kopi yang itu lagi, hujan deres banget. Cuma kita bertiga yang masih betah. Riri lagi keliatan stres. Gue coba hibur dengan ngobrolin film superhero, dia cuma senyum tipis. Maman, dengan pedenya, nyerocos soal konsep "absurditas" Kamus dan bagaimana kita harus menghadapinya.

Gue lihat mata Riri kosong. Maman nggak nyadar. Dia asik banget sama monolognya sendiri.

Trus, Riri nunduk, suaranya lirih, "Gue… baru aja putus sama pacar gue."

Sepi.

Maman langsung keceplos, "Ah, itu kan bagian dari penderitaan manusia yang…"

Gue potong. "Lu lagi nggak perlu teori, Man. Lagi butuh temen doang."

Gue dorong gelas kopi Riri yang udah mau abis. "Order lagi? Gue traktir. Atau mau gue anter pulang? Hujan-hujan gini."

Riri akhirnya nangis. Maman cuma bisa melongo, kayak konsep "air mata" nggak ada di bukunya. Di situ gue nyadar.

Sekarang? Kita bertiga masih nongkrong. Dinamikanya udah beda. Riri lebih sering cerita ke gue hal-hal receh, hal yang nggak perlu dianalisis. Maman? Dia masih nyoba-nyoba kasih puisi, tapi sekarang puisinya jelek. Mungkin karena tulus.

Gue? Ya gue masih suka sama Riri. Tapi gue sadar, di cerita cinta segitiga yang nggak jelas ini, yang penting bukan siapa yang menang. Tapi siapa yang bisa bikin dia tersenyum tanpa harus pusing mikirin kata-kata. Dan sejauh ini, gue lumayan berhasil.

Cerita Cinta Segitiga © 2025 - Ditulis oleh admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *