Duloh Menjadi Sales
Ilustrasi : Seseorang lagi jualanJadi begini ceritanya. Gue, Duloh, yang biasanya kesehariannya hanya minum kopi sambil mengamati orang lalu lalang, tiba-tiba diberikan tugas suci oleh bapak. "Dul, bantuin jualan produk kebanggaan keluarga kita nih," kata beliau sambil menunjukkan sekardus sabun cuci piring merek "Sinar Bumi", yang desainnya seperti dari zaman nenek gue masih gadis.
Demi menghormati orang tua, gue menyetujui saja. Tujuan pertama: warung milik Pak RT, yang dikenal sebagai orang galak dan pelit.
"Waalaikumsalam. Kamu mau apa, Dul? Utangmu kemarin belum lunas," sahutnya sambil menyapu halaman.
"Ini, Pak, saya menawarkan produk terbaru. Sabun cuci piring 'Sinar Bumi'. Bisa menghilangkan minyak bandel, plus harumnya semerbak seperti bunga di taman!" gue mempromosikan dengan jargon yang gue karang secara dadakan.
Pak RT menyipratkan sabun itu ke piring bekas gorengan yang hitam legam. Dia mengusap, membilas, lalu mengangkat piringnya. Mukanya langsung berbinar.
gue hampir terharu. Ternyata menjadi sales itu mudah! Namun euforia gue langsung pupus ketika dia bertanya, "Ini harganya berapa?"
gue lupa menanyakan harga kepada bapak. Daripada mengatakan tidak tahu, lebih baik gue menebak dengan logika ekonomi ala kadarnya. "Emmm... cuma tiga puluh ribu, Pak!" (gue pikir, lima ribu untuk balik modal, dua puluh lima ribu untuk untung).
Wajah Pak RT berubah drastis, dari cerah menjadi mendung tornado. "TIGA PULUH RIBU?!" teriaknya. "Dasar kamu Dul! Itukan harga sekardus! Yang saya mau cuma satu botol! Kamu pikir saya mau buka toko kelontong?!"
Gue langsung berkeringat dingin. "Oh... iya ya, Pak. Maaf, saya kira per dus. Kalau per botol... lima ribu," kata gue sambil menelan ludah.
Dia menggelengkan kepala, akhirnya membayar lima ribu sambil komat-kamit, "Dasar sales baru... otaknya masih di langit."
Perjalanan berlanjut ke warung sebelah. Ibu-ibu yang sedang kumpul arisan. Nah, ini sasaran empuk. Gue langsung menunjukkan kehebatan "Sinar Bumi". Bu Mimin, yang dikenal judes, penasaran.
Dia membuka tutup botolnya dan... SHRAAAAAK! Entah mengapa, tutupnya terbuka keras sekali sampai sabunnya muncrat langsung ke muka Bu Mimin. Seketika itu juga, mukanya yang sedang cemberut menjadi putih berbuih seperti setan pocong.
"AAAA! MATA SAYA, DULOH!" teriaknya.
Dengan panik, gue memberi tahu solusi dari iklannya sendiri, "Coba dibilas saja, Bu! Kata iklannya sih lembut di tangan!"
Dia lari sambil teriak-teriak ke keran air. Untungnya, sabunnya memang lembut. Matanya tidak apa-apa, hanya mukanya menjadi bersih kinclong. Eh, malahan dia senang. "Waduh, Dul, mukaku jadi bersih banget, seperti habis facial! Saya beli dua botol, ya!"
Gue hanya bisa melongo. Sales model apa ini, menyemprotkan produk ke pembeli kok malah laku.
Terakhir, gue menemui bapak-bapak sedang numpang parkir di depan warung. "Mau cuci mobil, Bang?" tanya gue iseng.
Demi menutup penjualan, gue menjawab, "Bisa banget, Bang! Pakai sabun cuci piring saja, biar kinclong!" Tanpa pikir panjang, gue mengambil botol sabun dan spons. Gue menyemangati habis-habisan. Namun, setelah selesai... mobilnya memang bersih, tapi catnya menjadi kusam seperti habis dikerok pakai kawat!
Akhirnya, gue pulang dengan dagangan ludes (kebanyakan diberikan gratis atau untuk ganti rugi), muka penuh peluh, dan pelajaran berharga: menjadi sales itu ternyata butuh nyali, modal nekat, dan yang paling penting... HARUS TAHU HARGA DAN FUNGSI PRODUK!
Bapak tersenyum melihat gue. "Gimana, Dul, enak jadi sales?"
Gue hanya bisa tersenyum kecut. "Enak banget, Pak. Besok gue mau jualan panci aja deh. Lebih aman."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar