Kamis, 25 September 2025

Mengantar Mama Ke Peristirahatan Terakhir

Mengantar Mama ke Peristirahatan Terakhir

Prosesi pemakaman

Perjalanan terberat dalam hidup adalah mengantar orang yang kita cintai ke peristirahatan terakhirnya

Udara pagi itu terasa berbeda. Lebih berat, lebih pekat. Telepon dari adik saya di subuh buta masih terngiang : "Kak, Mama sudah tidak bisa bangun. Nafasnya sangat pelan." Saya langsung mengemasi barang dengan tangan gemetar, pikiran kosong, hanya satu tujuan : pulang.

Perjalanan 30 menit dengan motor terasa seperti satu tahun. Setiap kilometer seakan menjauhkan saya dari dunia biasa dan membawa saya masuk ke dalam sebuah realita yang tidak ingin saya terima. Sampai di depan rumah, kerumunan orang dan suara tangis sudah menyambut. Dadaku sesak.

Makam dengan bunga

Saat terakhir bersama mama sebelum dimakamkan

Saya mendorong pintu kamarnya. Dan di sana, terbaringlah mama. Tubuhnya yang dulu selalu terlihat tegar, kini terlihat begitu kecil dan lelah. Wajahnya pucat, tapi ada kedamaian yang terpancar darinya. Saya memegang tangannya yang sudah dingin. Masih ada hangat tersisa, sisa dari kehidupan yang baru saja pergi. Saya mencium keningnya dan berbisik, "Maafkan anakmu, Mah. Aku sampai."

Hari-hari berikutnya adalah Urusan administrasi, belasungkawa, dan persiapan pemakaman. Tapi di tengah semua kesibukan itu, ada momen-momen tenang yang paling membekas.

"Ada satu momen, ketika rumah sudah sepi menjelang tengah malam. Saya duduk di samping jasad mama yang terbuka, hanya berdua. Lampu temaram menerangi wajahnya yang tenang."

Saat itulah, seperti ada izin dari langit, semua kenangan datang berhamburan. Saya teringat bagaimana dulu, dengan sabar mama mengajari saya mengikat tali sepatu. Tangan kecil saya yang canggung, dan tangannya yang besar serta sabar membimbing. Saya teringat aroma masakannya yang selalu menandai pulang sekolah. Saya teringat suaranya yang lembut membacakan dongeng sebelum tidur, dan tegurannya yang tegas ketika saya nakal.

Tempat peristirahatan terakhir mama

Duduk di sana, saya bukan lagi seorang anak dewasa dengan segudang tanggung jawab. Saya kembali menjadi anak kecil yang ditinggal pergi oleh pelindung terbesarnya. Air mata yang selama ini ditahan akhirnya tumpah. Saya menangis, berbicara padanya, seolah-olah dia bisa mendengar. Bercerita tentang betapa saya merindukannya, betapa berterima kasihnya saya untuk setiap pengorbanan yang tidak pernah dia keluhkan.

"Terima kasih, Mah," bisikku sambil memeluk jasad mama. "Terima kasih untuk segalanya."

Hari pemakaman tiba. Matahari bersinar terik, seakan tidak peduli dengan kesedihan yang menyelimuti kami. Saya dan adik-adik saya memikul keranda itu, langkah kami berat, bukan karena beratnya keranda, tapi karena beratnya perpisahan. Setiap langkah terasa seperti mengantar sebagian dari hati kami pergi untuk selamanya.

Proses penguburan

Saat terakhir melepas kepergian mama

Saat jasad mama perlahan-lahan diturunkan ke dalam liang lahat, itu adalah gambaran paling nyata tentang kepergian. Sebuah pintu yang tertutup. Butiran tanah pertama yang kami taburkan berbunyi gemerisik, suara final yang memilukan.

Sekarang, beberapa tahun telah berlalu. Lukanya tidak lagi perih, tapi telah menjadi sebuah kenangan yang mengharukan. Saya sering berkunjung ke pusaranya, duduk di samping batu nisan yang dingin. Tapi anehnya, di sana justru saya merasa paling dekat dengannya.

Mengantar mama ke peristirahatan terakhirnya bukanlah akhir dari hubungan kami. Itu adalah peralihan. Dari sebuah cinta yang diwujudkan dalam pelukan dan obrolan sehari-hari, menjadi sebuah cinta yang hidup dalam doa, dalam kenangan, dan dalam setiap nilai kebaikan yang dia tanamkan dalam diri saya.

Saya belajar bahwa kepergian orang yang kita cintai itu seperti pelukan terakhir. Sangat menyakitkan untuk melepaskannya, tetapi kehangatannya akan tetap tinggal bersama kita, menghangatkan hari-hari yang tersisa, hingga kita bertemu lagi di peristirahatan yang abadi.

Selamat tidur, Mama. Terima kasih untuk semua cinta. Kau telah sampai di tujuan, dan aku akan baik-baik saja, membawa semua pelajaranmu dalam setiap langkahku 😭.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *