Minggu, 21 September 2025

Mahkota Untuk Ibuku

Perjuangan Seorang Ibu - Karya Admin

Mahkota untuk Ibuku

Karya: Admin

<divIlustrasi : Mahkota ibu

Diana menghela napas panjang, menatap tumpukan kertas tagihan di meja kayunya yang sudah reyot. Listrik, air, sekolah, dan yang paling menyiksa: tagihan obat untuk Malik, putra semata wayangnya yang berusia sepuluh tahun. Asma yang diderita Malik membuatnya harus rutin kontrol dan menggunakan inhaler yang harganya selangit.

💊

"Sudah, Bu, tidak usah dibeli. Aku kuat," bisik Malik suatu malam, wajahnya pucat sambil berusaha menahan batuk yang mengguncang tubuh kecilnya. Kalimat itu seperti pisau yang menancap di hati Diana.

Keesokan harinya, Diana memutuskan sesuatu. Di sudut kota, ada pabrik kerupuk yang terkenal dengan upah hariannya. Pekerjaannya? Menjemur kerupuk di terik matahari. Bukan pekerjaan untuk orang yang sudah berusia 45 tahun seperti dirinya, apalagi dengan rematik yang mulai sering kambuh.

🌶️

Hari pertama terasa seperti neraka. Matahari membakar kulitnya, punggungnya terasa mau patah, dan kakinya bengkak. Tapi setiap ia ingin menyerah, bayangan Malik yang terbata-bata mencari napas muncul di benaknya. Ia gigit bibir, usap keringat di pelipis, dan lanjut menggelar ratusan loyang kerupuk.

Uang hasil kerjanya ia simpan rapat-rapat di dalam kaleng bekas biskuit. Sedikit demi sedikit. Untuk inhaler baru, untuk biaya dokter, dan jika ada lebih, ia belikan Malik buku gambar karena Malik suka sekali menggambar.

"Kata Bu Guru, pahlawan itu orang yang berjuang tanpa pamrih. Seperti Ibu."

Suatu siang, langit mendadak gelap. Hujan deras tiba-tiba turun membasuh bumi. Para pekerja panik menyelamatkan kerupuk yang sedang dijemur. Diana berlari, memindahkan loyang-loyang kerupuk ke dalam gudang. Tubuhnya yang letih terpeleset di genangan air. Lututnya terbentur keras, berdarah. Tapi ia bangkit lagi, terus bekerja menyelamatkan kerupuk yang berarti uang untuk obat anaknya.

🌧️

Ia pulang dengan tubuh basah, lelah, dan lutut yang masih berdenyut-denyut sakit. Saat membuka pintu, Malik menyambutnya dengan wajah cemas.

"Ibu, kenapa?" tanya Malik, matanya melihat luka di lutut ibunya.

"Gak apa-apa, Nak. Ibu cuma terpeleset," jawab Diana sambil pura-pura tersenyum.

Malik diam-diam mengambil air hangat dan mengusap kaki ibunya dengan handuk. Tangannya yang kecil lembut mengusap. Diana menahan isak. Keringat, air hujan, dan air matanya seakan menyatu.

❤️

Esok harinya, sepulang dari pabrik, Diana melihat Malik sedang asyik menggambar. Biasanya ia menggambar pemandangan atau mobil.

"Ini gambar apa, Sayang?" tanya Diana sambil duduk di sampingnya.

Malik menunjukkan gambarnya. Itu adalah gambar seorang wanita dengan pakaian sederhana, berdiri di tengah lapangan penuh kerupuk, dengan matahari yang bersinar terik. Di atas wanita itu, ada gambar awan gelap dan hujan. Tapi yang paling mencolok, di atas kepala wanita itu, Malik menggambar mahkota yang bersinar dan tulisan yang masih terbata-bata: "IBU, PAHLAWANKU".

Diana tak bisa menahan air matanya lagi. Ia memeluk Malik erat-erat. Semua lelah, semua sakit, terbayar lunas pada saat itu juga.

© 2025 - Cerita fiksi karya Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *