Bintang di Atas Kolong Jembatan
Sebuah Cerita tentang Mimpi Besar Anak Jalanan
Ilustrasi: Bayu dan adiknya di kolong jembatan, memandang bintang di langit malam
Bayu mengecup kening adiknya, Laras, yang sudah terlelap di dalam "rumah" mereka sebuah bilik dari kardus dan terpal di kolong jembatan. Angin malam berdesir, tapi hangatnya tubuh mereka berdua cukup untuk saling melindungi. Di langit, sebuah bintang terlihat sangat terang, bersinar tepat di celah antara besi-besi jembatan.
"Lihat, dek," bisik Bayu pelan, meski tahu adiknya sudah tidur. "Bintang itu lagi. Kayak lagi senyum ke kita."
Sepanjang hari, Bayu berjuang. Kakinya melangkah di trotoar panas, menyusuri kemacetan ibu kota dengan kaleng bekas cat di tangannya. "Permisi, Bang, Bu, beli koran?" suaranya serak tapi penuh harap. Kadang dapat, sering kali hanya diabaikan. Uang yang terkumpul akan ia tukar dengan nasi bungkus untuk dia dan Laras. Hidupnya adalah permainan matematika sederhana yang keras: cukupkah untuk makan hari ini?
Tapi di balik kaleng bekas cat dan baju yang lusuh, Bayu menyimpan sebuah harta karun rahasia : sebuah buku gambar bekas yang ia temukan di tong sampah dekat sebuah percetakan. Buku itu penuh dengan coretan-coretan. Bukan coretan biasa. Ia menggambar mobil yang bisa berjalan dengan tenaga matahari, rumah pohon yang besar untuk semua anak jalanan, dan mesin yang bisa mengubah sampah plastik menjadi mainan.
Mimpinya yang paling besar adalah menjadi seorang insinyur. Kata itu ia dengar dari obrolan seorang bapak yang sedang membetulkan motornya di bengkel langganannya. "Anak saya kuliah jadi insinyur, nanti bisa bikin jembatan," kata bapak itu bangga. Sejak saat itu, Bayu terpikat. Ia ingin membuat sesuatu. Sesuatu yang berguna, sesuatu yang bisa memperbaiki hidup orang lain, sesuatu yang permanen, tidak seperti rumah kardusnya yang bisa hanyut diterjang hujan.
Suatu siang, saat ia sedang asyik menggambar sketsa "sepeda tenaga angin"-nya di trotoar menggunakan kapur tulis, seorang perempuan muda berhenti. "Wah, gambarnya bagus sekali," ujar perempuan itu. Namanya Ibu Ani, seorang guru di sanggar belajar gratis untuk anak-anak kurang mampu. "Ini apa, Nak?" tanya Ibu Ani sambil menunjuk gambar Bayu. "Itu... sepeda pakai kipas, Bu. Biar enggak capek kayuh," jawab Bayu malu-malu.
Ibu Ani tersenyum lembut. Ia mengajak Bayu dan Laras ke sanggarnya. Untuk pertama kalinya, Bayu memegang buku gambar yang masih baru dan pensil warna yang lengkap. Ia juga diajari matematika dan sains. Baginya, setiap pelajaran adalah seperti kunci yang membuka pintu menuju mimpinya. Ia belajar bahwa untuk membangun jembatan, ia perlu memahami angka dan fisika.
Bertahun-tahun kemudian, suasana di kolong jembatan itu tetap sama, tapi yang berbeda. Laras sudah remaja dan bersekolah di sekolah kejuruan. Bayu, yang kini berusia dua puluh tahun, duduk di sebelah "rumah" kardus mereka yang masih sama. Tapi di tangannya, bukan kaleng bekas cat, melainkan selembar kertas berharga.
"Laras, lihat ini!" seru Bayu, suaranya bergetar antara tak percaya dan bahagia. Laras mengambil kertas itu. Matanya membesar. Itu adalah surat penerimaan. Bayu diterima di sebuah politeknik negeri, dengan beasiswa penuh untuk jurusan Teknik Mesin.
"Kakak diterima?!" teriak Laras memeluk kakaknya erat-erat. "Iya, dek. Iya!" jawab Bayu, matanya berkaca-kaca menatap langit malam.
Bintang yang dulu selalu ia lihat dari kolong jembatan, malam itu bersinar lebih terang dari biasanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar