Minggu, 21 September 2025

Pencarian Warna Di Atas Awan

Pencarian Warna di Atas Awan - Karya Admin

Pencarian Warna di Atas Awan

Sebuah perjalanan menemukan cahaya dalam kegelapan

Karya Admin

Rumah dalam Kabut

Leo tinggal di sebuah rumah kayu yang dibangun oleh ayahnya, terselip di lereng gunung yang selalu diselimuti kabut. Sejak kecil, ia hidup hanya berdua dengan kedua orang tuanya, jauh dari keramaian. Ibunya adalah seorang pelukis yang mengajarinya melihat keindahan dalam setiap tetes embun dan helai kabut. Ayahnya adalah seorang pembuat jam yang mengajarinya tentang ketelitian dan kesabaran.

"Di puncak itu, langit dan bumi bertemu. Di sanalah semua jawaban berada" - Ayah Leo

Namun, kapal yang membawa mereka pulang dari kota setelah berobat, tenggelam dalam badai yang tak terduga. Tiba-tiba, Leo yang berusia 25 tahun menjadi sangat sendiri. Dunia yang selama ini penuh dengan detail indah dan mekanisme rumit, berubah menjadi sunyi dan berwarna abu-abu, seperti kabut yang tak pernah sirna dari sekeliling rumahnya.

Museum Kenangan

Rumah itu menjadi museum bagi kenangan. Setiap jam dinding yang dibuat ayahnya berdetak dengan suara yang semakin menyiksa. Setiap kanvas yang belum selesai milik ibunya seolah menatapnya dengan pandangan menagih. Leo menyadari ia tidak bisa tinggal di sana. Ia bukan ayahnya yang sabar, bukan ibunya yang penuh warna. Ia adalah Leo yang hilang.

Rumah Kayu di Lereng Gunung
Ilustrasi: Rumah Kayu di Lereng Gunung

Suatu pagi, dengan ransel berisi sedikit perlengkapan dan sebuah kotak kayu berisi abu orang tuanya, Leo memutuskan untuk mendaki puncak gunung yang selama ini hanya ia lihat dari jendela kamarnya.

Perjalanan ke Puncak

Perjalanannya berat. Kabut semakin tebal, udara semakin dingin. Ia tersesat, jatuh, dan hampir menyerah. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Semakin tinggi ia mendaki, warna-warna kabut mulai berubah. Abu-abu pekat mulai menipis, berubah menjadi keperakan, lalu kebiruan, dan kemudian ia melihatnya—sinar matahari menembus kabut, menciptakan pelangi mini di antara butiran air.

"Leo, pelangi itu bukan hanya tujuh warna. Ia adalah jutaan warna yang berdansa bersama cahaya" - Ibu Leo

Keajaiban di Puncak Gunung

Leo akhirnya tiba di puncak. Sebuah dataran luas terbentang, dan di hadapannya, lautan awan berwarna emas dan jingga memantulkan matahari terbenam. Pemandangan itu begitu perkasa dan indah, membuatnya merasa sangat kecil. Ia membuka kotak kayu itu, tangannya gemetar.

Pemandangan dari puncak Gunung
Ilustrasi: Pemandangan dari puncak Gunung

Ia berharap bisa mengucapkan kata-kata perpisahan yang bijak, tapi yang keluar dari mulutnya hanya isakan. "Aku tidak tahu bagaimana hidup tanpa kalian," katanya pada angin.

Saat itu, angin berhembus lebih kencang, membawa abu di dalam kotak itu dan menaburkannya ke atas lautan awan. Sesuatu yang ajaib terjadi. Abu-abu itu tidak menghilang begitu saja. Seolah bereaksi dengan cahaya matahari, awan-awan di hadapannya tiba-tiba berpendar dengan warna-warna yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—ungu kebiruan, jingga keemasan, hijau zamrud yang lembut—seperti palet raksasa ibunya yang sedang menari.

Penemuan Kembali

Leo terpana. Dalam keheningan puncak itu, ia akhirnya mengerti. Orang tuanya tidak pergi. Mereka tidak lagi berada dalam jam yang berdetak atau kanvas yang belum selesai. Mereka telah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Mereka ada dalam cahaya yang menembus kabut, dalam angin yang menggerakkan awan, dalam setiap warna indah yang masih bisa dilihatnya di dunia.

Dia tidak lagi merasa sendiri. Dia merasa ditemani.

"Seni adalah untuk dibagikan, karena keindahan yang disembunyikan adalah keindahan yang sia-sia" - Ibu Leo

Leo turun dari gunung keesokan harinya. Kabut di sekitar rumahnya masih sama, tetapi matanya sekarang melihat berbeda. Ia melihat ribuan nuansa warna di dalamnya. Ia memasuki rumahnya, tidak lagi sebagai museum, tetapi sebagai rumah.

Dia duduk di depan kanvas kosong ibunya. Untuk pertama kalinya sejak kepergian mereka, dia mengambil kuas. Dia tidak akan melukis kabut yang abu-abu. Dia akan melukiskan semua warna yang dilihatnya di atas awan, warna yang diberikan orang tuanya padanya untuk terakhir kalinya.

© 2025 - Karya Admin

Cerita ini belum pernah ada di mana pun, karena ia baru saja dimulai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *