Jumat, 26 September 2025

Perpustakaan Dan Rindu

Perpustakaan dan Rindu yang Disangka Hujan - Cerita Pendek Romantis

Perpustakaan dan Rindu yang Disangka Hujan

Cerita Pendek Romantis

Ilustrasi perpustakaan

Gue tipe orang yang percaya sama ritme. Dunia ini punya ritmenya sendiri. Bangun tidur, ngopi, berangkat kampus, duduk di perpustakaan pojok lantai tiga, pulang. Itu ritme gue. Sederhana, apa adanya, dan yang paling penting, no drama.

Sampai suatu sore, ritme itu kacau balau.

Hari itu hujan gerimis, semacam hujan yang bikin lo naik motor basah, jalan kaki juga basah. Gue buru-buru nyelonong ke perpustakaan, ngejar tempat favorit. Eh, udah ada yang duduk. Cewek. Rambutnya masih lembab karena hujan, dan dia lagi asyik banget sama tumpukan buku arsitektur yang kayaknya berat banget buat dibawa.

"Ini ada yang punya?" tanyanya, suaranya datar, kayak petugas perpustakaan yang lagi capek.

"Enggak," jawab gue singkat.

Gue duduk, ngelaptop, nyalain Spotify playlist kangen band. Ritme berusaha gue paksakan kembali.

Tapi sore itu, ritme kami berdua kayak nemu frekuensi yang sama. Gue sadar dia juga dengerin musik, dan kadang dia ketawa kecil sendiri, kayak denger joke dari podcast-nya. Sesekali gue ngelirik. Jari-jemarinya yang nggak pernah berhenti coret-coret sketsa di buku gambarnya, mata yang fokus banget, dan senyum tipis yang muncul entah karena apa.

Hujan reda. Dia beresin barang, cuma ngangguk kecil ke gue, lalu pergi. Gak ada basa-basi. Gue cuma bisa ngegigit bibir, ngerasa kayak kehilangan sesuatu yang bahkan gue aja belum tau itu apa.

Esoknya, gue balik lagi ke tempat yang sama. Dan dia udah ada di sana. Lagi-lagi, cuma ngangguk. Tapi kali ini, ada secangkir kopi tambahan di meja. Dia nawarin kopi itu ke arah gue.

"Kebanyakan bikin, kebuang sayang," katanya, masih dengan ekspresi cuek-nya.

Gue terima. Kopinya pahit, persis kayak yang gue suka. Perfect? Mungkin.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya jadi semacam ritual tanpa kata-kata yang disepakati. Kami berdua duduk berhadapan, masing-masing di dunianya, tapi ada benang tak kasat mata yang nyambungin. Kadang gue kasih dia permen mint yang gue bawa, kadang dia tinggalin buku gambar dengan gambar doodle kecil di samping laptop gue. Gambar kucing gemuk atau tanaman dalam pot.

Ritme gue berubah. Sekarang ada dia di dalamnya. Dan gue... gue ngerasa ini nggak buruk.

Sampai akhirnya, dia nggak datang selama tiga hari berturut-turut. Perpustakaannya terasa luas banget dan sepi. Gue baru nyadar, selama ini keheningan kami berdua itu ramai, bukan sepi. Sekarang, beneran sepi.

Di hari keempat, dia akhirnya muncul. Wajahnya keliatan capek. Dia duduk, ngeluarin laptop, dan nggak ngeluarin buku gambar atau apapun. Gue ngerasa ada yang salah.

Setelah beberapa menit dalam keheningan, dia akhirnya bicara.

"Gue mungkin pindah kampus. Ke Jogja."

Diem. Gue cuma bisa diem. Rasanya kayak ritme yang baru aja gue temuin, langsung dihancurkan palu godam.

"Owh," itu aja yang bisa gue keluarin. Keren banget, gue.

Dia nyelipin semua bukunya ke tas, kayak mau buru-buru pergi. Gue tau kalo gue biarin dia pergi sekarang, gue bakal nyesel seumur hidup. Ini bukan waktunya buat cuek. Ini waktunya buat jujur.

"Tunggu," gue pegang lengan bajunya, lembut. Dia balik badan, matanya berkaca-kaca. Damn.

"Lo tau, sebelum lo dateng," gue mulai, suara gue agak serak, "gue pikir rutinitas gue itu sempurna. Semuanya terkendali. Terus lo dateng, bawa hujan dan buku-buku lo yang berat itu, dan ngerusak semuanya."

"Maaf, ya."

"Bukan, dengerin dulu," potong gue. "Lo ngerusak ritme gue... tapi lo gantiin dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan... ini." Gue gerakin jari gue antara dia dan gue. "Gue kangen. Tiga hari lo gak dateng, gue kangen sama senyum lo yang dikit banget itu, sama doodle-doodle lo yang aneh."

Dia diam, sekarang matanya udah nggak berkaca-kaca lagi, malah ada cahaya nakal di sana.

"Jadi, maksud lo apa?" tanyanya, main-main.

"Gue nggak mau lo pergi. Tapi kalo lo harus pergi, boleh gak gue... nemenin lo? Ngerusak ritme lo di Jogja juga, mungkin?"

Dia akhirnya ketawa, senyum lebar yang selama ini cuma gue liat sepintas.

"Akhirnya lo ngomong juga. Gue udah nunggu dari lama, tau. Nggak sangka lo harus nunggu sampe gue mau pindah kampus dulu."

Dan di sore itu, di perpustakaan sepi lantai tiga, untuk pertama kalinya, ritme kami akhirnya menyatu. Bukan dalam diam, tapi dalam obrolan dan tawa yang akhirnya keluar setelah sekian lama disimpan.

Ternyata, cinta yang paling bikin deg-degan itu ya yang datengnya nggak pake rencana. Kayak hujan gerimis yang nyelonong dateng, bikin basah, dan bikin semuanya jadi lebih hidup.

© 2025 Cerita Pendek Romantis. Semua hak cipta milik admin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *