Lelaki di Persimpangan Jalan
Ilustrasi : Lelaki di persimpangan jalanGue berdiri di persimpangan ini, ngerasain angin yang nempel di kulit kayak sesuatu yang hidup. Tiga jalan membentang di depan mata, kayak tiga episode hidup yang beda banget. Masing-masing punya karakter, punya janji, punya bahayanya sendiri. Matahari sore mulai miring, ninggalin bayangan gue yang memanjang dan kayak ikut bingung milih arah.
Yang pertama lurus aja. Jalanannya mulus, aspal item mengkilap, marka jalan masih kinclong. Jalur yang paling logis buat dipilih. Tapi, ujungnya ketutup sama kabut tebel yang kayak gak mau kasih lihat apa yang bakal terjadi. Itu jalan yang paling banyak dilewatin orang. Gue bisa liat bekas ban doang, bukan jejak kaki. Kayak kehidupan yang udah diplot dari sononya: aman, nyaman, tapi bikin mata berat buat melek. Jalan yang bakal bikin gue nanya dalam lima tahun, "What if?"
Yang kedua belok ke kiri. Jalannya naik-turun kayak rollercoaster yang udah tua. Aspalnya retak-retak, di beberapa spot bahkan keliatan batu-batu bawahnya. Dari kejauhan, kedengeran gemericik air selokan yang nyamperin gue kayak bisikan, "Sini, lu bakal nemu cerita yang bagus buat diceritain ulang." Ada pepohonan yang nutupin sebagian jalan, jadi sinar matahari nyemplung kayak spotlight di panggung. Jalan ini janjiin adrenalin, ketidakpastian, dan kemungkinan buat tersesat yang justru bikin penasaran.
Yang ketiga belok ke kanan. Jalannya sempit, lebih mirip gang daripada jalan. Cahaya susah nyampe, jadi suasannya gelap dan dingin, bahkan buat sore hari. Tembok-tembok di sampingnya dihiasi graffiti warna-warni yang kayak coretan di buku harian orang sinting. Ada bau mistis yang numpang lewat, janjiin sesuatu yang… beda. Sesuatu yang mungkin nggak akan gue dapetin di tempat lain. Jalan ini teriak, "Gue buat yang nggak takut sama kegelapan sendiri."
Gue ngeliatin sepatu boots lama gue yang udah penuh jejak lumpur dan debu dari mana-mana. Ini bukan cuma soal milih jalan buat dilalui, bro. Ini soal milih versi diri gue yang mana yang mau gue kasih makan, yang mana yang mau gue temuin di ujung perjalanan.
Gue tarik napas dalem, rasanya paru-paru gue kembangkan buat narik semua oksigen yang ada. Kabut di jalan lurus itu tiba-tiba kayak berbisik pelan, "Jangan. Lu bakal nyesel."
Dan dalam satu detik itu, gue memutusin. Bukan ke kiri yang penuh petualangan, bukan ke kanan yang gelap dan misterius. Tapi gue nyelonong aja, nerobos semak-semak liar yang ada di celah antara dua jalan itu. Duri nyangkut di celana, tapi gue terusin aja. Menerobos. Bikin jalan sendiri.
Dedaunan kering remuk di bawah boots gue. Suaranya berisik, kayak tepuk tangan kecil-kecil dari alam buat pilihan gue yang nggak biasa.
Kadang, pilihan terbaik emang yang nggak pernah ada di peta, bro. Karena yang di peta ya cuma jalan yang udah pernah dilewatin orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar