Rabu, 24 September 2025

Pup Di Celana

Duloh Pup di Celana

Duloh Pup di Celana

<divIlustrasi : Pup di celana

Gue lagi ngerasa pengen cerita lagi nih. Ini tentang momen paling absurd yang pernah gue alamin, dan lo harus janji gak akan nyebarin ke siapa-siapa.

Jadi, waktu itu hari Sabtu yang panas banget. Gue (sebut aja Duloh, ya) lagi nongkrong santai sama si Bayu dan Rian di warung kopi langganan. Kita lagi asik bahas rencana nonton bola nanti malem. Perut gue udah agak nggak enak dari tadi pagi, tapi gue pikir cuma masuk angin biasa. Gue masih pede aja pesen mie rebus plus es teh manis.

Pas lagi asik ngobrol, tiba-tiba perut gue keram. Bukan keram biasa. Ini kayak ada alien lagi pengen keluar dari dalem perut gue. Keringet dingin langsung bercucuran. Gue coba santai, senyum-senyum dikit ke Bayu yang lagi cerita soal masalahnya. Tapi dalam hati, alarm darurat udah berisik banget.

"WOI, INI KRITIS, BOS!" teriak insting gue.

"Eh, gue ke toilet dulu, ya," kata gue coba se-keren mungkin, sambil berdiri.

Nah, ini dia bagian tragisnya. Begitu gue berdiri, ada desakan yang gak bisa ditahan. Bukan cuma angin, bro. Ini... ini adalah serangan mendadak dari pasukan kavaleri. Brak! Atau lebih tepatnya, suara yang kecil tapi dampaknya lebih menghancurkan. Gue langsung terdiam di tempat. Mata gue melotot. Bayu dan Rian masih lanjut ngobrol, gak nyadar bahwa temen mereka baru aja mengalami kiamat kecil-kecilan di dalam celana pendeknya.

Dunia kayak slow motion. Gue bisa ngerasin... kehangatan yang menyebar dengan cepat di area bokong. Celana cargo cokelat favorit gue udah bukan lagi jadi pelindung, tapi sekarang jadi penjara. Gue pelan-pelan duduk lagi, dengan gaya duduk yang super aneh, kayak lagi nahan batu bata di bokong.

"Loh, Dul, kok duduk lagi? Katanya mau ke toilet?" tanya Rian bingung.

"Eh... e... lupa, mau tiupin mie dulu. Biar adem," jawab gue sambil nyengir kaku. Otak gue cepet banget mikir. Opsi A: Lari ke toilet dan tinggalkan bukti di kursi. Mustahil. Opsi B: Teleportasi pulang. Gak bisa. Opsi C: Mati aja.

"Lo kenapa, Dul? Mukanya pucat," sela Bayu.

"Gak... gak apa-apa. Gue... gue kayanya harus pulang dadakan. Ibu suruh buru-buru," kata gue sambil berdiri lagi, kali ini dengan sangat hati-hati. Gue jalan pelan-pelan, kayak prajurit yang lagi menyusup. Setiap langkah adalah sebuah tantangan. Gue harus menjaga agar "konten" di dalam tetap pada tempatnya. Jangan sampai bocor lagi, atau bahkan—amit-amit—netes.

Perjalanan 50 meter dari warung ke kosan gue rasanya kayak marathon. Setiap ketemu orang, senyum gue kecut. Gue kayak penjahat dalam film yang lagi menyembunyikan bom. Akhirnya, sampai juga di depan pintu kos. Gue buka pintu kamar kayak ninja, langsung lari ke kamar mandi.

Proses pembersihan itu adalah sebuah ritual penebusan dosa. Celana cargo itu gue masukkan ke kantong plastik dobel, kayak mayat yang harus dihilangkan dari muka bumi. Gue mandi selama mungkin, berharap air bisa membersihkan aib ini.

Keesokan harinya, gue ketemu Bayu dan Rian lagi.
"Lo kenapa kemarin buru-buru bangat, Dul?" tanya Bayu.
"Eh, ibunya ternyata cuma mau nitip belanjaan," jawab gue lega. Mereka gak ada yang tau. Ini akan jadi rahasia yang gue bawa sampai ke liang kubur.

Jadi, pelajaran moralnya: jangan pernah sepelein tanda-tanda dari perut lo, dan selalu dengerin tubuh lo sendiri. Kecelakaan bisa terjadi dimana aja, bahkan di warung kopi yang lagi rame. Trust me, I know.

Ditulis oleh Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *