Bayangan di Batu Nisan
Cerita tentang penyesalan seorang anak durhaka
Alkisah, hiduplah seorang pemuda bernama Bima. Ia dikenal sebagai anak yang sukses di kota, namun hatinya keras terhadap orang tuanya di desa. Setiap ada telepon dari ibunya selalu diabaikan, dan setiap permintaan ayahnya untuk pulang selalu ditolak dengan alasan sibuk. Bima malu dengan orang tuanya yang hanya petani sederhana.
Suatu malam, ia mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia. Dengan berat hati, Bima pulang. Rasa sesal mulai menggerogotinya, tetapi ia masih berusaha menahan diri. Ayahnya yang sudah rentan hanya bisa memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
"Saat kau sibuk mengejar duniamu, ibumu selalu menunggumu di teras setiap Jumat sore, mengharapkan kau pulang," bisik ayahnya suatu sore, sambil menatap foto almarhumah istrinya.
Kata-kata itu seperti pukulan berat bagi Bima. Malam itu, di kuburan ibunya, Bima akhirnya menyerah. Air matanya mengalir deras saat ia menyadari betapa egoisnya dia. Ibunya telah pergi selamanya, dan ia tak pernah memberinya kebahagiaan sedikit pun.
"Maafkan aku, Ibu," isaknya sendirian, tubuhnya terguncang di atas batu nisan yang dingin. "Aku menyesal. Menyesal sekali."
Sejak hari itu, Bima berubah total. Ia membawa ayahnya tinggal bersamanya, merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan mencoba membayar semua dosa masa lalunya dengan perhatian dan cinta. Ia sadar, penyesalan memang datang terlambat, tetapi tidak untuk mengubah sisa hidupnya menjadi lebih baik. Ia belajar bahwa ridho orang tua adalah kunci ketenteraman hidup yang selama ini ia cari-cari.
Pesan Moral
Hargailah orang tua selagi mereka masih ada. Jangan sampai penyesalan datang terlambat. Kasih sayang dan perhatian kepada orang tua adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan, karena ridho orang tua adalah ridho Tuhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar