Koordinat Yang Hilang
Gue duloh, ada di tengah Laut Banda karena satu alasan : nyari harta karun. Dasar gue ambisius. Semuanya berawal dari peta tua yang gue beli di toko loak di Surabaya. Si bapak pemilik toko bilang, "Ini bukan peta biasa, Nak." Dan bener aja, setelah gue teliti, ada koordinat tersembunyi yang nunjukin lokasi yang nggak ada di peta manapun, cuma ditulis "Daratan Terakhir".
Nah, gue yang lagi butuh duit dan pengen kaya mendadak, nekat sewa kapal kecil. Tiga hari berlayar, GPS gue tiba-tiba nge-blank. Padahal langit cerah, nggak ada angin badai. Sinyal radio cuma dapet suara desisan. Anehnya, kompas masih jalan, tapi jarumnya muter-muter pelan, kayak lagi bingung.
Hari kelima, gue lihat sesuatu yang nggak masuk akal. Di tengah lautan yang seharusnya dalem banget, tiba-tiba ada tiang bendera tua muncul dari air, karatan, dan di ujungnya masih berkibar sisa-sisa bendera Merah Putih yang udah compang-camping. Itu hal pertama yang bikin merinding bukan karena horor, tapi karena ini pertanda gue udah deket ke sesuatu yang seharusnya nggak ada.
Peta itu, walaupun tua, detailnya bikin gue bengong. Di bagian "Daratan Terakhir" ada tulisan tangan : "Di mana waktu berjalan mundur." Gue kira itu cuma kiasan penyemangat. Sampai suatu sore, gue liat jam tangan gue berhenti di pukul 17.08, lalu jarum jamnya muter balik. Gue pikir baterai abis, tapi jam tangan gue kan otomatis!
Akhirnya, di hari ketujuh, kabut turun tiba-tiba. Dan di balik kabut, gue liat daratan. Sebuah pulau kecil dengan satu bukit dan mercusuar. Tapi ini bukan pulau biasa. Pas gue deketin, gue sadar ada sesuatu yang aneh : burung-burung camar terbang mundur. Ombak yang pecah di pantai kayak diputar balik rekamannya. Suara angin dan debur ombak nggak nyambung sama yang gue liat. Semua terasa....aneh.
Gue beraniin diri turun ke pantai. Pasirnya putih, tapi dingin. Nggak ada suara lain selain angin dan ombak yang salah arah tadi. Di deket mercusuar, gue nemuin batu prasasti kecil dengan tulisan : "Selamat datang di titik nol."
Gue balik ke kota dengan segudang pertanyaan. Peta "Daratan Terakhir" itu gue simpan di brankas, karena gue sadar beberapa misteri emang nggak perlu dipecahkan.
Tapi bulan lalu, gue nemuin foto tua di arsip pelayaran. Itu foto kapal tahun 1970-an, dan di latar belakang... ada tiang bendera karatan yang persis kayak yang gue liat. Yang bikin penasaran, di foto itu ada seseorang berdiri di dek kapal, melambaikan tangan.
Orang itu mirip banget sama gue.
Sekarang gue cuma bisa bertanya-tanya : apa "Daratan Terakhir" itu sebenernya bukan tempat, tapi semacam jebakan waktu? Atau mungkin cermin dari realitas yang berbeda?
Gue nggak akan kembali ke sana. Tapi kadang, ketika hujan deras dan langit mendung, gue masih membuka laci dan memandangi peta tua itu sekilas barang antik yang menyimpan rahasia paling gelap di lautan.
Mungkin suatu hari nanti akan ada orang bodoh lain seperti gue yang mencoba membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Tapi yang pasti, itu bukan gue.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar