Kamis, 13 November 2025

Anak Itu Tau Kapan Semua Orang Akan Mati

Anak Itu Tau Kapan Semua Orang Akan Mati

Anak Itu Tau Kapan Semua Orang Akan Mati

Cerita Misteri
Ilustrasi cerita misteri

Awalnya sih, gue anggap Raka cuma anak aneh biasa. Bocah kelas lima SD yang lebih sering diem, matanya kayak orang ngelamun yang lagi mikirin utang. Tapi di kampung ini, gosipnya nggak perlu bukti yang ribet. Katanya, Raka bisa tau kapan orang akan mati.

Gue pertama denger ya cuma ketawa. "Ah, masa sih?" kata gue ke emak.

"Iya, katanya dia ngeliat semacam tanggal ngambang di atas kepala orang. Kalo tanggalnya udah deket, ya berarti orang itu cepet umurnya," jawab Emak sambil bikin teh manis.

Gue sih nggak percaya. Sampe suatu sore, gue lagi main bola di lapangan deket kuburan. Bola gue nyangkut di pohon beringin tua yang angker banget itu. Raka kebetulan lewat. Dia liat gue yang lagi bingung.

"Jangan naik, Mas," bisiknya tiba-tiba. Suaranya kecil, hampir kalah sama suara angin.

"Kenapa?" tanya gue.

Dia cuma geleng, matanya sedih. "Tanggalnya cuma sisa tiga hari buat pohon itu."

Gue meledek. "Pohon juga ada tanggal matinya?"

Tiga hari kemudian, datang badai besar pohon beringin itu pun tumbang. Persis di tempat gue biasanya manjat. Gue merinding.

Sejak saat itu, gue mulai jauhin Raka. Bukan apa-apa, tapi ngeri aja. Setiap ketemu, mata gue langsung iseng ngeliatin atas kepala sendiri, siapa tau ada tanggal ngambang-ngambang. Tapi ya nggak ada. Mungkin cuma Raka yang bisa liat.

Keanehan Raka bikin dia dikucilin. Anak-anak lain pada takut. Orang tua pada melarang anaknya deket-deket. Raka jadi makin pendiam, sering sendiri. Ibunya bahkan jarang keluar rumah, malu sama omongan tetangga.

Suatu hari, Pak RT yang dikenal baik dan ramah itu ngadain syukuran. Rame-rame. Raka dateng sama ibunya. Tapi mukanya pucet pas liat Pak RT. Dia nangis histeris dan nunjuk Pak RT, bilang, "Besok! Tanggalnya besok!"

Suasana langsung beku. Ibunya buru-buru narik Raka pulang, muka malu campur takut. Pak RT cuma bisa ketawa, coba nangkis suasana canggung, tapi raut wajahnya keliatan kaku.

Besoknya, Pak RT ketiduran di mobil angkot dan nggak bangun-bangun lagi. Kena serangan jantung.

Kampung jadi makin gempar. Raka bukan lagi anak aneh. Dia jadi semacam hantu hidup. Orang-orang pada ngeliat dia dengan tatapan campur aduk : takut, segan, dan jijik. Setiap dia lewat, orang pada minggir atau masuk ke dalam rumah. Rasanya kayak ada malaikat maut cilik yang lagi jalan-jalan.

Suatu sore, gue nemuin Raka duduk sendirian di tepi kali. Dia lagi nangis. "Kenapa?" tanya gue, memberanikan diri duduk di sebelahnya.

"Aku benci bisa liat ini semua," keluhnya. "Aku nggak mau tau. Setiap ketemu orang, yang aku liat pertama itu tanggal di atas kepalanya, bukan mukanya. Aku tau Bu Siti yang jualan gorengan cuma sisa dua bulan. Aku tau temen sekelas aku, Andi, tanggalnya setaun lagi."

"Lu... lu bisa liat tanggal gue?" tanya gue penasaran.

Dia angkat muka, matanya yang merah liat gue dari atas sampai bawah. Lalu dia balik nangis. "Aku nggak bisa liat tanggal Mas."

"Hah? Kenapa?"

"Karena... karena di atas kepala Mas nggak ada tanggal."

Gue bengong. "Apa artinya?"

"Aku nggak tau," isaknya. "Aku baru nemu orang yang nggak ada tanggalnya. Cuma Mas."

Dia nggak jelasin lebih lanjut. Tapi sejak hari itu, gue jadi satu-satunya orang yang berani ngobrol sama Raka. Mungkin karena gue satu-satunya yang nggak punya 'tanggal' di matanya. Buat gue, dia cuma anak kecil yang kebawa kutukan, yang sebenarnya paling takut sendiri. Kami sering duduk di kali itu, kadang ngobrolin game, kadang cuma diem aja.

Dia pernah nanya, "Mas, menurut Mas, kenapa ya cuma Mas yang nggak punya tanggal?"

Gue cuma bisa geleng. "Nggak tau, Rak. Mungkin karena gue nggak percaya sama tanggal-tanggalan lu dari awal."

Dia nyengir, senyum tipis pertama yang gue liat di wajahnya. "Atau mungkin karena Mas yang nentuin tanggal mati Mas sendiri."

Gue nggak jawab. Tapi kata-katanya nancep. Mungkin aja dia bener. Atau mungkin ini semua cuma kebetulan yang dibesar-besarin. Yang pasti, anak itu, dengan segala 'kemampuan'nya, akhirnya ngajarin gue satu hal : yang paling serem itu bukan tau kapan kita mati, tapi hidup dalam ketakutan akan hal itu. Dan mungkin, rahasia terbesar tentang kematian justru ada di tangan orang-orang yang berani hidup sepenuhnya.

Ditulis oleh : Admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *