Jejak di Buku Tua
Sebuah refleksi tentang makna kepahlawanan di era modern
Ilustrasi : Buku catatan tua dengan kenangan perjuangan
Gue menatap layar laptop, jari mengetik cepat menyelesaikan laporan yang harus dikumpulkan besok. Dunia dipenuhi kerjaan dan target. Tiba-tiba, pesan dari Ibu masuk : "Nak, tolong bersih-bersih lemari bukumu yang lama. Ibu mau simpen barang."
Dengan setengah hati, gue membongkar lemari buku yang udah bertahun-tahun tak tersentuh. Debu beterbangan, memenuhi udara. Lalu, mata gue tertuju pada sebuah buku tua bersampul coklat lusuh. Buku catatan kakek.
Penasaran, gue buka halaman pertamanya. Tulisan tangannya rapi, tapi udah memudar.
Gue tertegun. Ini bukan lagi pelajaran sejarah di sekolah yang hafalan tahun dan nama. Ini adalah napas, ketakutan, dan keberanian yang ditulis langsung oleh seseorang yang merasakannya.
Gue baca terus.
Kalimat itu menyentak gue. "Mati berdiri, bukan berlutut." Gue membandingkannya dengan diri gue yang kadang mengeluh hanya karena jaringan internet lemot atau tugas yang menumpuk. Rasanya... malu.
Halaman selanjutnya menceritakan bagaimana Kakek dan Dimas berhasil melumpuhkan sebuah tank dengan keberanian gila-gilaan. Tapi kemudian, ada tembakan.
Mata gue berlinang air mata. Dimas. Seorang remaja yang namanya tidak tercatat di buku mana pun, yang mungkin hanya menjadi statistik "pahlawan tak dikenal". Tapi pengorbanannya nyata. Nyawanya adalah harga yang dibayar untuk napas kemerdekaan yang gue hirup hari ini.
Gue menutup buku itu pelan. Rasanya dunia berhenti sejenak. Laporan di laptop tiba-tiba terasa tak penting. Pahlawan. Selama ini mungkin bagi gue hanya tentang gelar, tentang TNI, tentang hal-hal besar dan heroik.
Tapi hari ini, melalui tulisan Kakek, gue paham.
Pahlawan adalah tentang anak muda yang rela meninggalkan mimpi pribadinya, yang memilih bambu runcing di tangan alih-alih buku, dan yang dengan berani menukar masa depannya agar generasi setelahnya punya masa depan.
Gue mengambil ponsel, membuka grup kantor. "Maaf, untuk besok aku izin tidak masuk. Ada sesuatu yang harus kukerjakan."
Esok harinya, 10 November, bukannya ke kantor, gue berdiri di depan monumen pahlawan. Gue letakkan sekuntum bunga. Bukan untuk pahlawan tanpa nama, tapi khusus untuk Dimas. Untuk semua Dimas-Dimas lain yang gugur tanpa tau apakah perjuangan mereka akan berbuah.
Perjuangan mereka sudah berbuah. Gue adalah buahnya. Dan tugas gue sekarang bukan lagi mengangkat senjata, tapi mengisi kemerdekaan ini dengan cara terbaik yang gue bisa. Bekerja jujur, berkontribusi untuk sekitar, dan tak pernah lupa bahwa kemudahan yang gue rasakan hari ini dibeli dengan harga yang sangat mahal.
Perjalanan pulangnya terasa berbeda. Langkah gue lebih mantap. Gue tak langsung buka media sosial. Malah ambil buku catatan lama dan gue tulis, "Terima kasih, Kakek. Terima kasih, Dimas. Gue sekarang mengerti. Jadi pahlawan zaman sekarang berarti jadi diri sendiri yang bertanggung jawab, yang tidak korupsi waktu, yang peduli pada sesama."
Sorenya, gue denger anak-anak tetangga berantem berebut mainan. Biasanya gue acuhkan, tapi kali ini gue ajak mereka berdamai. Gue ceritakan soal Dimas, pahlawan seusia kakak mereka yang dulu berani berkorban. Mereka diem, mendengarkan. Mata kecil mereka berbinar. Mungkin ini langkah kecil.
Hari Pahlawan tahun ini terasa berbeda. Ia bukan lagi sekedar tanggal di kalender. Ia ada di dalam diri gue, mengaliri setiap niat dan tindakan gue ke depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar