Minggu, 05 Oktober 2025

Tukang Cukur Bang Kodir

Cerita Tukang Cukur - Si Ucul

Cerita Tukang Cukur - Si Ucul

Sebuah kisah tentang Bang Kodir dan tempat cukur legendarisnya yang menjadi ruang terapi bagi para lelaki

Orang sedang merekam suara [Ilustrasi : Tempat Cukur "Si Ucul"]

Oke, jadi gini ceritanya. Jadi, lu harus kenal nih sama Bang Kodir.

Bang Kodir ini bukan tukang cukur biasa. Dia itu semacam dewa penyelamat rambut-rambut bobrok di daerah kelahiran gue. Salonnya? Bukan "The Executive" atau "Gentlemen's Barbershop" yang ber-AC dan pake bahasa Inggris alay. Tempat cukurnya bernama"Si Ucul", sempit, nempel di sela-sela ruko, persis di depan pom bensin.

"Eh, si Mamat dateng nih! Yang udah lama gak nongol!" sambut Bang Kodir sambil nutupin celah di kepala pelanggannya pake clipper.

Cirinya? Bau khas campuran minyak wangi murahan, obat pembasmi serangga, sama keringet. Kipas angin tempel yang bunyinya "ngik-ngik" kayak mau sekarat. Cerminnya retak-retak, mungkin sejak jaman gue masih bocah. Tapi ini tempatnya sakral, bro. Ini semacam markas besar buat para lelaki.

Gue dateng pagi itu, udah rame. Isinya bapak-bapak umur 50-an yang lagi ngomporin politik, abang-abang ojol yang lagi curhat soal penumpang nyebelin, sama bocah SD yang nangis-nangis disuruh ibunya buat di cukur.

Gue: "Lagi sibuk cari duit, Bang. Mau cukuran aja harus nunggu gajian," gue bales sambil nyelonong duduk di kursi kayu panjang yang bantalan busanya udah kempes dan bolong-bolong.

Ritualnya dimulai. Gue duduk, ngamatin Bang Kodir lagi "bekerja". Tangannya itu lho, kayak mesin CNC. Presisi banget. Clipper di tangan kanan, sikat kecil di tangan kiri. Dia gak cuma motong rambut, dia lagi nata ulang sebuah kekacauan di kepala orang.

Bang Kodir: "Gimana, Bang? Modelnya kayak kemarin?"

Gue: "Yoi, Bang. Yang biasa-biasa aja. Biar gak keliatan botaknya nongol," gue canda.

Bang Kodir: "Ah, lu mah lebay. Rambut lu masih tebel ini. Nih liat punya si Mang Ucup," dia nunjuk ke bapak-bapak di sebelah yang kepalanya mulus kayak telur asin. Kita semua ketawa.

Dan di sinilah keajaiban terjadi. Dalam 15 menit, di bawah tangan Bang Kodir, gue berubah. Rambut gue yang semula kayak sarang burung walet jadi rapi. Dia pake pisau cukur tua buat ngerapihin tepian. Dingin, tajam, tapi gerakannya smooth banget. Rasanya mantap.

Tapi lebih dari sekadar cukuran, "Si Ucul" ini adalah ruang terapi. Di sini, gue denger cerita.

Dari Bang Kodir sendiri, yang cerita dia harus putus sekolah buat nafkahin adik-adiknya. Dari bapak-bapak sebelah yang ngomel-ngomel soal harga sembako. Dari abang ojol yang senyum-senyum cerita anaknya ranking satu. Di sini, kita semua sama. Sama-sama lelaki yang lagi berjuang, sama-sama butuh pelampiasan, sama-sama butuh dengar bahwa kita gak sendirian.

Bang Kodir: "Jadi, gimana? Udah dapet doi belom?" goda Bang Kodir sambil bersihin leher gue pake kuas.

Gue: "Lagi proses, Bang. Santai aja," jawab gue senggol.

Bang Kodir: "Ah, lu mah dari dulu gitu. Nanti udah ubanan baru berani nembak," ledeknya, bikin yang lain ketawa lagi.

Pas selesai, dia kasih kaca kecil. "Nih, calon artis."

Gue liat. Wah, fresh banget. Muka yang tadi lesu abis lembur, sekarang keliatan lebih sangar dikit. Bayarnya cuma 20 rebu. Murah meriah, tapi efeknya buat mental seharian.

Gue: "Makasih, Bang."

Bang Kodir: "Sama-sama, Bang. Hati-hati di jalan. Jangan lupa senyum, biar rezekinya lancar."

Gue keluar dari "Si Ucul" dengan kepala yang lebih ringan, baik secara fisik maupun mental. Bau minyak wangi murahan itu nempel di baju, tapi gue gak peduli. Itu seperti parfum kebanggaan, tanda bahwa gue baru aja menyelesaikan sebuah ritual.

Dan Bang Kodir? Dia bukan cuma tukang cukur. Dia itu psikolog, komedian, sekaligus sejarawan bagi kehidupan para lelaki di kampungnya. Di kursi cukur usangnya, dia bukan cuma motong rambut, tapi juga merapikan jiwa-jiwa yang semrawut.

BK

Bang Kodir

Tukang cukur legendaris dengan tangan presisi dan humor khas. Bukan sekadar pencukur rambut, tapi juga pendengar cerita yang baik.

Berbagai jenis tulisan tangan [Ilustrasi : Proses Cukur dengan Clipper]
Berbagai jenis tulisan tangan [Ilustrasi : Suasana Ramai di Dalam Tempat Cukur]
MAT

Mamat (Si Pencerita)

Pelanggan setia Bang Kodir yang datang ke "Si Ucul" bukan hanya untuk cukuran, tapi juga untuk terapi percakapan.

Cerita tentang kehidupan sehari-hari di tempat cukur | Ditulis oleh admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *