Rabu, 15 Oktober 2025

CERITA MISTERI : POCONG BOTAK

Cerita Misteri : Pocong Botak

Pocong Botak

Sebuah Cerita Misteri Urban yang Mengguncang

Prolog

Halo bro. Jadi gini, lu denger kan soal pocong? Iya, yang item-item, mukanya pucet, badannya dibungkus kain kafan. Tapi yang satu ini beda. Dia botak.

Gue nggak lagi ngibul. Ini beneran kejadian di kampung sebelah, deket rawa-rawa belakang pabrik tekstil itu loh.

Asal Usul

Jadi, ada kabar burung. Katanya, dulu ada preman lokal, namanya Bang Jarot. Kepalanya plontos, licin kayak lapangan futsal. Hidupnya jahat, nipu orang, utang nggak dibayar, sampe ada yang bilang dia yang bakar warung kopi Pak Dul karena utang judi. Tapi, suatu malam, Bang Jarot hilang. Ditemukan seminggu kemudian di rawa, udah jadi mayat. Tapi anehnya, saat ingin di makamkan mayatnya nggak dibungkus kain kafan biasa. Dia dibungkus pake karung goni item. karena dia semasa hidupnya jahat. Ya sudahlah, dikubur deh.

Ilustrasi Pocong Botak
Ilustrasi Pocong Botak yang menyeramkan

Penampakan Pertama

Nah, seminggu setelah dikubur, cerita seremnya mulai. Dimulai dari si Ucup, anak nakal yang suka maling ayam. Suatu malem dia pulang ngebut naek motornya lewat deket kuburan. Motornya mogok persis di depan pager kuburan. Mesinnya bunyi "tek tek tek" lalu mati. Lampu depan redup sendiri.

"Anjir, bensin abis nih," gerutunya sambil nyolek-nyolek motor.

Dari dalam kuburan, dia denger suara gesekan. "Sssrrr… sssrrr…" Kayak kain diseret di tanah.

Ucup nengok. Di antara nisan-nisan, ada sesuatu yang bergerak. Putih. Tapi bukan putih bersih, putih kusam kayak karung basah. Yang bikin bulu kuduk Ucup langsung merinding? Kepalanya botak. Licin. Gundul. Dan mukanya itu mukanya Bang Jarot. Tapi matanya cuma dua lubang hitam, mulutnya terbuka lebar, kosong.

"Ucup lu yang kemaren maling ayam gw?" suaranya serak kayak abis nyanyi black metal.

Ucup langsung teriak, nggak peduli motornya lagi. Dia lari sekenceng-kencengnya sampe ngos-ngosan, ngompol dikit. Besoknya, Ucup demam. Nggak berani keluar rumah.

Korban Berikutnya

Korban berikutnya si Mamat, debt collector yang dulu sering disuruh Bang Jarot buat ngancem orang. Mamat pulang malem dari main gaple. Jalan sendirian. Tiba-tiba ada bau anyir, bau rawa dan tanah basah.

Dari belakang, ada yang manggil. "Mamat…" Suaranya dingin. Mamat balik badan. Itu pocong botak berdiri di bawah pohon beringin, badannya kayak melayang setengah meter dari tanah. Karung goninya meneteskan air coklat.

"Utang lu sama gw belom lunas," kata pocong itu. "Bunga-bunganya nambah, Mamat."

Mamat, yang biasanya galak, langsung lemes. Dia liat pocong itu geser mendekat, jari-jarinya yang kotor mau nyolek dahinya.

"Ampun, Bang! Aing bayar! Aing bayar!" teriak Mamat sambil nyungsep ke tanah.

Pocong botak itu cuma ketawa, "Hahaha…udah telat, Mat. Bayarnya pake nyawa."

Esok harinya, Mamat ditemukan pingsan di pinggir jalan. Dia selamat, tapi sejak itu jadi sering bengong, suka ngomong sendiri.

Kerjasama Menyeramkan

Terus, gosipnya pocong botak ini nggak kayak pocong biasa yang cuma lompat-lompat. Dia bisa ngomong, nawarin "kerjasama". Dia muncul ke orang-orang yang punya "hutang" sama dia, baik hutang duit, hutang budi, atau hutang jasa jahat. Dan bayarannya selalu sesuatu yang bikin merinding.

Konfrontasi Terakhir

Nah, puncaknya pas sama si Juki, tangan kanan Bang Jarot dulu. Juki ini masih nekat. Dia malah nyari pocong itu sambil bawa golok.

"Gue berani lawan, Bang! Jangan ganggu gue!"

Dia nekat masuk kuburan malem-malem. Dan di sana, di atas makam Bang Jarot, pocong botak itu memang lagi nunggu. Duduk di atas nisan.

"Juki, lu dulu yang kasih tau gue soal warungnya Pak Dul, ya?" tanya pocong itu datar.

Juki, meski udah bawa golok, langsung gemetar. Dia liat pocong itu berdiri. Karung goninya terbuka sedikit, dan dari dalam, keluar ratusan kecoa dan cacing yang pada jatuh ke tanah.

"Gue butuh partner bisnis lagi, Juk. Di bawah sini sepi," bisik pocong botak itu sambil mendekat. Bau tanah kubur dan busuk nyengat di hidung.

Juki nyerang pake golok. Tapi goloknya nembus karung goni kayak nembus udara. Pocong botak itu malah ketawa,

"Hahaha, bisnis kita dulu juga begini, nggak nyata, tipu-tipu doang."

Juki berusaha lari, tapi kakinya dipegang sama akar-akar yang tiba-tiba keluar dari tanah. Pocong botak itu membungkuk, kepalanya yang botak dan berlubang-lubang itu hampir menempel sama wajah Juki.

"Tenang, prosesnya cepet kok."

Keesokan harinya, Juki ditemukan di kuburan. Masih hidup, tapi otaknya kayak kosong. Dia cuma bisa duduk melotot, dan terus-terusan ngomong satu kalimat:

"Dia butuh partner… dia butuh partner…"

Sampe sekarang, kadang kalo ada orang yang punya niat jahat, atau punya utang yang nggak mau dibayar (terutama yang kelewat batas), mereka bisa aja nemuin si pocong botak ini. Dia nongol di ujung jalan, di balik pohon, atau kadang cuma lewat di kaca spion pas lu lagi nyetir sendirian malem-malem.

Dan dia selalu nawarin "kerjasama".

Epilog

Jadi, lu lagi punya utang nggak? Atau lagi ngerencanain sesuatu yang nggak bener? Hati-hati aja. Siapa tau nanti malem, di balik jendela, ada sesosok putih dengan kepala plontos yang lagi ngeliatin lu sambil nyengir.

"Mau bayar utang, atau mau jadi partner gue?"

Nah, gitu ceritanya. Ngeri kan? Jangan lupa, jangan berbuat jahat. Karma itu beneran ada, wujudnya bisa aja pocong botak.

Cerita Misteri Urban © 2025 - Ditulis oleh admin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *