Sabtu, 25 Oktober 2025

PASRAH

Cerpen : Pasrah

Pasrah

Oleh : Admin

Cerpen Kehidupan • Pasrah

Ilustrasi sawah kering dengan langit mendung

Langit kelam menggantung rendah, memayungi sore yang sunyi. Angin berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyelinap lewat celah-celah jendela kayu rumah tua itu. Di depan rumah, seorang lelaki tua duduk di atas kursi goyangnya. Namanya Pak Harjo. Tangannya yang keriput memegang segelas teh hangat yang sudah mulai kehilangan uapnya. Matanya yang sudah agak rabun menatap jauh ke arah sawah yang mengering di depan rumahnya.

Musim kemarau tahun ini terasa panjang dan kejam. Sawah yang biasanya menghijau, membentang seperti permadani emas di musim panen, kini retak-retak dan gersang. Padi yang ditanam dengan susah payah layu sebelum sempat berbulir. Hasilnya, hampir tidak ada. Hanya debu dan keputusasaan yang tersisa.

"Yah, ayo masuk. Udara mulai dingin," suara lembut Bu Isah, istrinya, terdengar dari dalam.

Pak Harjo hanya mengangguk pelan, tetapi badannya tak juga bergerak. Pikirannya melayang, mengingat kembali masa-masa sulit dalam hidupnya. Dia telah melalui banyak hal. Kehilangan anak semata wayangnya karena sakit, bertahun-tahun lalu, adalah luka terdalam yang tak pernah benar-benar sembuh. Lalu, gagal panen kecil-kecilan yang selalu bisa diatasi. Tapi kali ini rasanya berbeda. Kegagalan ini terasa seperti pukulan terberat.

"Tuhan sedang mengujiku lagi, Bu," bisiknya pelan pada angin.

Beberapa tetangga sudah mulai menjual lahannya kepada pengusaha dari kota yang berniat membangun pabrik. Mereka menawarkan harga yang menggiurkan. Tapi bagi Pak Harjo, sawah itu bukan sekedar tanah. Itu adalah warisan, jejak leluhurnya, dan seluruh kisah hidupnya. Melepasnya terasa seperti mengkhianati jiwanya sendiri.

Bu Isah keluar, membawakan selimut tipis yang dia selimutkan di pundak suaminya. Dia duduk di sampingnya, diam. Dia tidak terlalu banyak bicara. Lima puluh tahun pernikahan telah mengajarkannya bahasa sunyi suaminya.

"Kita harus jual sawah itu, Yah?" tanya Bu Isah akhirnya, suaranya bergetar halus.

Pak Harjo menarik napas dalam. Dia memandangi istrinya, melihat kerutan di wajahnya yang mencerminkan kerutan di jiwanya sendiri. Dia melihat keteguhan di balik mata yang sedih itu.

"Tidak, Bu," jawab Pak Harjo perlahan. "Aku tidak akan menjualnya."

"Lalu...bagaimana kita akan makan? Tabungan kita hampir habis."

Pak Harjo memejamkan mata. Sebuah perang hebat terjadi dalam dirinya. Di satu sisi, ada keinginan untuk bertahan, untuk melawan. Di sisi lain, ada kelelahan yang begitu mendalam. Dia telah berjuang, mencoba segala cara untuk menyelamatkan tanamannya. Tapi alam punya rencananya sendiri.

"Aku sudah berusaha sekuat tenaga, Bu," ucapnya, suaranya serak. "Aku sudah berdoa, sudah bekerja siang malam. Tapi kali ini...kali ini mungkin kita harus belajar untuk ikhlas."

Kata 'ikhlas' itu terasa pahit di lidahnya, tapi juga membebaskan. Bukan menyerah dalam arti kalah. Tapi sebuah penerimaan bahwa ada hal-hal di luar kendalinya. Sebuah pengakuan bahwa kadang, jalan hidup tidak selalu lurus seperti pematang sawah.

"Kita akan hadapi ini bersama," kata Bu Isah, memegang tangan suaminya erat-erat. "Seperti yang selalu kita lalui."

Pak Harjo mengangguk. Air mata akhirnya menetes pelan, membasahi pipinya yang keriput. Itu bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata pelepasan. Pelepasan dari beban yang selama ini dia pikul sendirian.

Esok paginya, langit masih sama kelamnya. Pak Harjo bangun lebih awal. Dia berjalan ke sawahnya, berdiri di tepi lahan yang gersang. Dia membiarkan dirinya merasakan sedih dan kecewa itu sepenuhnya. Lalu, dengan napas panjang, dia mengangkat tangannya, seperti menyerahkan segalanya.

Dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Mungkin dia akan mencari pekerjaan serabutan di kota, atau beralih menanam palawija yang lebih tahan kering. Tapi satu hal yang dia tahu, jiwanya kini lebih tenang. Kepasrahannya bukanlah akhir, melainkan sebuah permulaan baru. Sebuah awal untuk menerima kenyataan, bangkit dari lantai yang paling keras, dan terus melangkah dengan hati yang lapang, meski langit tak selalu menjanjikan hujan.

***

© 2025 Cerpen Kehidupan. Semua hak cipta dilindungi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Donay Book

Sebuah merk buku yang menjadi wadah bagi seluruh kumpulan cerpen karya Dena Angga.




Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *