Misteri Kematian Alexander Agung
Ada satu orang di sejarah yang namanya engga pernah hilang : Alexander Agung. Raja Macedonia, penakluk separuh dunia yang dikenal, mati muda di usia 32 tahun di kota Babylon, tahun 323 Sebelum Masehi. Udah 2300 tahun lebih, tapi pertanyaannya tetap sama : dia matinya kenapa, sih?
Ini tuh kayak cold case paling tua dan paling epic di dunia. Kayak kasus pembunuhan kamar hotel yang korban dan saksi-saksinya udah jadi debu, tapi bukti-bukti tertulisnya masih bikin para detektif (sejarawan dan ilmuwan) pusing tujuh keliling.
Awal Juni 323 SM, Alexander lagi di puncak karirnya. Baru pulang dari penaklukan India, rencananya mau nyerbu Arab. Tiba-tiba, dia demam. Bukan demam biasa, tapi demam yang bikin raksasa sepertinya ambruk.
Kesaksian yang Simpang Siur
Nah, ini masalah pertama. "Saksi" kita cuma dari catatan sejarah yang ditulis puluhan tahun bahkan ratusan tahun setelah kejadian, dan itu pun sering kontradiktif. Sebut aja Plutarch, Arrian, Diodorus. Mereka kayak orang yang lagi ngerumpiin gosip 300 tahun setelah peristiwa.
Versi paling umum : Alexander abis pesta minum berat selama berhari-hari. Di suatu malem, minum anggur banyak banget, trus demam. Demamnya naik turun selama kurang lebih 12 hari. Dia ngeluh sakit banget di bagian punggung (kaya ditusuk pedang), terus makin lemah, sampe akhirnya engga bisa bicara, dan meninggal.
Tapi, ada hal-hal aneh yang bikin teori konspirasi zaman kuno rame :
1. Racun?
Banyak yang nuduh musuh politiknya, terutama jenderal-jenderalnya sendiri yang udah cape perang dan pengen pulang. Racun apa? Ada yang bilang air dari sungai Styx yang legendaris (beracun), atau racun dari tumbuhan tertentu seperti hellebore atau white hellebore. Tapi, racun zaman dulu kan engga canggih. Kalo racun, biasanya korban cepet banget matinya atau gejala keracunan spesifik. Gejala Alexander yang lama (12 hari) bikin teori racun agak goyah.
2. Penyakit?
Ini teori paling banyak variannya :
- Malaria : Babylon rawa-rawa, endemis malaria. Gejala demam naik turun cocok. Tapi Alexander kan baru pulang dari perjalanan jauh, bisa aja ketularan di mana gitu.
- Demam Tifoid : Ditularin dari air atau makanan. Gejalanya juga demam tinggi, lemes, mungkin ada diare (tapi catatan sejarah engga sebut ini spesifik).
- Pankreatitis Akut : Akibat pesta minum happy banget. Bisa bikin sakit perut hebat (mungkin itu yang dikira "pedang menusuk" di punggung), demam, dan kematian dalam beberapa hari. Ini cukup kuat, soalnya kebiasaan minumnya emang legendaris.
3. Faktor Lain :
- Penyakit Lama : Dia pernah kena tusukan paru-paru di India. Mungkin ada infeksi kronis yang kambuh.
- Depresi Berat : Saat itu, sahabat karibnya, Hephaestion, baru meninggal setahun sebelumnya. Alexander disebut-sebut jatuh dalam kesedihan mendalam. Stres dan depresi berat bisa ngerusak sistem imun banget, bikin penyakit biasa jadi fatal.
The Modern Detectives
Nah, abad 21, detektifnya beda. Mereka pake ilmu forensik dan epidemiologi.
Beberapa tahun lalu, ada teori baru yang ngeri : Virus West Nile Encephalitis. Iya, virus yang disebarin nyamuk itu. Seorang dokter dan seorang ahli sejarah kimia zaman kuno neliti catatan gejala dan kronologinya. Ternyata, gejala Alexander (demam lama, diikuti kelumpuhan otot dan koma) mirip sama komplikasi parah West Nile. Dan ada satu detail menarik : menurut satu catatan, sekelompok burung gagak mati jatuh dari langit deket istana sekitar waktu Alexander sakit. Burung gagak tuh inang umum virus West Nile! Jadi, bisa aja ada wabah di populasi burung, lalu nyamuk yang gigit burung mati itu nularin ke manusia, salah satunya sang raja.
Ada juga teori Leukemia atau Infeksi Meniere (gangguan telinga dalam yang bikin demam dan muntah-muntah parah).
Tapi, ini semua cuma tebak-tebakan ilmiah. Kenapa? Karena engga ada jenazahnya untuk diotopsi! Mayat Alexander diawetkan pake madu, dikabarin dibawa ke Mesir, trus hilang ditelan waktu. Makamnya yang legendaris di Alexandria engga pernah ditemukan. Kalo aja makamnya ketemu dan sisa jasadnya bisa dianalisis DNA atau di scan, mungkin misteri ini bisa dipecahkan. Tapi ya itu, kayak nyari harta karun yang lokasinya udah hilang.
Jadi, Kesimpulannya :
Alexander Agung mungkin mati karena kombinasi segala hal di atas. Bayangin : tubuhnya udah babak belur abis puluhan tahun perang, kena luka berat, kebiasaan minum alkohol, depresi abis ditinggal sahabat, lalu dihantem sama penyakit infeksi yang ganas (entah malaria, tifus, atau virus West Nile) di kota yang panas dan becek. Sistem imunnya yang udah jebol akhirnya nyerah.
Kematiannya bukan cuma meninggalnya seorang raja, tapi jadi plot twist terbesar sejarah. Kalo aja dia hidup lebih lama 10 atau 20 tahun, peta dunia bisa beda banget. Mungkin dia bakal nyerbu Romawi yang masih bayi, atau sampe ke China. Tapi dia mati muda, kerajaannya yang luas langsung pecah berantakan dikuasai para jenderalnya.
Jadi, cold case 2300 tahun ini mungkin engga akan pernah terpecahkan dengan pasti. Alexander membawa penyebab kematiannya ke alam kubur, ninggalin kita dengan teka-teki, spekulasi, dan bukti-bukti sejarah yang serba mendua. Dia tetep The Great, tapi juga jadi The Great Mystery.
Intinya bro, orang terhebat sekalipun, akhirnya bisa tumbang sama hal-hal yang nampak sepele : nyamuk, air kotor, mabok kebanyakan, atau patah hati. Itu mungkin pelajaran terbesarnya. So, jaga kesehatan, bro!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar